TERJEMAHAN CERPEN KARYA MAHMUD TAIMUR
UTS :
FAHMUL MAQRU’ AL-ADABY
HARI/TANGGAL :
Kamis, 29 Maret 2018
NAMA
: Muhammad Rizqi Fathoni
NIM
: 17101010065
Cerita
(dikereta) Mahmoud Taimur
Pagi
yang cerah hilangkan kesedihan dan kegelapan dari hati, orang tua
berasa muda kembali, dan angin lembut segarkan hati dan hilangkan
gundah dalam diri, dan di taman pohon-pohon melambai ke kanan dan ke
kiri seolah menari menyambut datangnya pagi hari, orang-orang
berjalan di jalan dengan semangat kerja yang membara, dan aku
tertekan, aku melihat keindahan alam dari jendela, dan aku bertanya
pada diriku sendiri tentang penyebab aku tertekan, tapi tidaklah aku
dapatkan jawaban apa pun. Aku berurusan dengan biro "Musa"
dan mencoba membaca, aku tak berhasil kemudian ku lemparkan itu ke
meja makan dan menyerah untuk berpikir seolah-olah aku adalah korban
di antara cakar-cakar waktu.
Aku
tetap di sana berpikir dan kemudian aku bangkit. Aku mengambil
tongkat dan ku tinggalkan rumahku. Aku tidak tahu di mana, kakiku
menuntunku sampai aku mencapai pintu gerbang besi dan di sana aku
berdiri sejenak lalu berpikir dan kemudian aku mendapat ide untuk
pergi menenangkan diriku. Aku
membeli
tiket dan naik kereta ke
sebuah Desa untuk menghabiskan
hari-hariku disana. Aku
duduk di salah satu gerbong
kereta di sebelah jendela, dan tidak ada seorang pun selain
aku
dan aku
tetap di
tempatku
sampai aku mendengar suara dari penjual surat kabar berdengung di
telinga aku "Wadi
an-Nil,
Al-Ahram, Mokattam." Lalu ku
beli
sebuah
koran lalu aku membacanya..
Tiba-tiba
pintu gerbong terbuka dan masuklah orang tua Tinggi,
berkulit cerah,
berjenggot
tebal,
dengan mata, seolah dia belum terbangun dari tidurnya. Ustadz
ini duduk tidak jauh dariku. Kemudian dia melepas sepatu merahnya
sebelum menyilangkan kakinya ketika duduk. Kemudian dia meludah tiga
kali di lantai, kemudian mengusap bibirnya dengan sapu tangan merah
yang lebih layak di jadikan tudung bagi anak kecil. Kemudian dia
mengeluarkan tasbih dari sakunya yang berisi 100 manik-manik dan dia
mengulang ulang menyebut nama Tuhan, Nabi, Para Sahabat, para wali
dan orang yang saleh. Seraya kupalingkan pandanganku darinya,
sehingga aku melihat seorang pemuda di sebuah gerbong, yang ku tak
tahu dari mana dia berasal. Mungkin
aku sibuk
memperhatikan
profesor yang menghalangiku untuk melihat pria muda itu ketika dia
masuk. Ku lihat anak laki-laki itu dan terlintas dalam pikirku
bahwa dia adalah seorang siswa pedesaan yang telah menyelesaikan
ujiannya dan kembali ke kampungnya untuk menghabiskan liburannya
dengan
keluarga dan kerabatnya. Aku
melihat pemuda itu ketika dia melihat aku dan kemudian mengeluarkan
dari tasnya
sebuah novel dari kisah-kisah konspirasi orang-orang dan dia
membacanya
setelah dia memandangi sekitarku
dan melihat profesor,
berharap kereta akan
berangkat
sebelum penumpang keempat tiba. Kemudian Effendi Wadah al-Tala'a,
Hassan al-Hendam, memasuki gerbong
kami.
Dia berjalan seraya menyanyikan lagu
berulang-ulang, yang pernah aku dengar
dari para pedagang lobak dan turmus. Al-Effendi
tersenyum kemudian
duduk
bersila setelah
kita memberi
salam. Lalu
kita membalasnya sebagai orang asing. Ada keheningan di ruangan itu
sementara si pelajar membaca novelnya dan profesor membaca kalimat
tasbih dalam ketidaksadarannya, dan Afandi memandangi pakaiannya
berkali-kali dan kadang memandangi musafir lainnya, dan aku membaca
surat kabar “wadi an-niil” sambil menunggu kereta berangkat
sebelum kedatangan penumpang kelima. Kami
diam sejenak, kami tak berbicara seolah kami sedang menunggu
seseorang datang. Pintu kamar terbuka dan seorang pria berumur enam
puluh tahun masuk. Wajahnya kemerahan,
matanya berkilau
Kulitnya
itu
menunjukkan bahwa dia orang Sirkasia
asli,
dan dia
membawa
payung
yang tampak usang termakan usia. Adapun
Tepi
sisi
topinya
mencapai ujung telinganya. Dia
duduk di depanku sembari mengamati wajah teman-teman seperjalanannya
seolah dia menanyakan dari mana mereka berasal dan ke mana
tujuan
mereka pergi, dan kemudian kami mendengar sirene kereta api yang
menandakan
kepada
orang-orang bahwa
kereta
akan berangkat,
kemudian
setelah itu kereta berangkat mengantar orang-orang yang ada di
dalamnya ke tempat tujuan mereka. Kereta itu berjalan dan kami duduk
tanpa berbicara sedikitpun, seolah-olah di kepala kami ada burung
yang membebani sampai mendekati stasiun Shubra, tiba-tiba syarkasi
melirikku lalu berkata kepadaku: Apakah ada berita baru wahai
Effendi? Lalu
aku menjawab sambil memegang koran di tanganku Hari ini tidak ada
berita apapun yang menarik perhatian, demi Allah, selain berita dari
Kementerian Pendidikan untuk menyamaratakan pendidikan dan melawan
buta huruf. Pria itu tidak membiarkanku untuk menyelesaikan
perkataanku, dia merampas surat kabar dari tanganku tanpa izin dan
mulai membaca apa yang ada di depan matanya, dan aku tidak heran
dengan apa yang dia lakukuan, karena aku lebih tahu batasan-batasan
orang syarkasi. Tak lama setelah itu, kereta api sampai di
stasiun Shubra, dan salah satu walikota Qalioubiya naik ke kereta,
dia adalah seorang pria berbadan besar dengan hidung pesek, berkumis,
hidung, wajah dengan bekas cacar kecil, menunjukkan tanda-tandal
kekuatan dan juga ketidaktahuan. Walikota itu duduk di sebelahku
setelah dia membaca Surat Al-Fatihah dan berdoa kepada Nabi, lalu
kereta itu pergi ke Qalyub. Syarkasi berhenti
membaca koran dan kemudian melipatnya
dan melemparkannya ke lantai
karena terbakar rasa sakit dan
berkata: Mereka
ingin menyebarkan pendidikan dan memerangi buta huruf sehingga petani
naik ke jajaran tuannya dan mereka tidak menyadari bahwa mereka
melakukan kejahatan
besar. Aku
mengambil
Koran
dari
lantai dan
berkata: Adakah
kejahatan? Kamu
masih
muda
kamu tidak
tahu
solusi efektif
untuk mendidik petani. Solusi
apa yang Kamu maksud? Apakah
ada solusi yang lebih
efektif
dari
pada
pendidikan?
Apakah
ini
lebih
efektif
dari
pada
pendidikan? Maka
Syarkasi
pun
mengerutkan kedua alisnya dan berbicara dengan nada
marah: Ada
solusi lain....Apaitu? Dia
berteriak sambil tenganga sahingga
profesor
terbangun dari tidurnya dan berkata: Cambuk. Sesungguhnya cambuk
itu sama sekali tidak membebani pemerintah, tetapi pendidikan
membutuhkan banyak dana dan jangan lupa bahwa petani tidak tunduk
kecuali kepada
pukulan karena
mereka
sudah
membiasakannya
sejak
lahir
sampai
liang
lahat. Dan
aku
ingin
menjawab
Syarkasi,tetapi
sang
Wali kota yang dilindungi Allah mencegahku
untuk
membalas
perkataan Syarkasi,
lalu
ia
berkata pada Syarkasi dan dia tersenyum dengan senyuman yang amat
cemerlang.” Kamu benar tuan, kamu benar bahkan jika kamu
sedang dalam kerugian sekalipun kamu akan mengatakan lebih dari itu.
Kita lebih menderita daripada seorang petani yang menahan penderitaan
dan
mencegah
kejahatan. Syarkasi menatapnya dengan
curiga
dan
berkata:
“Apakah
Anda
tinggal
dipedesaan?”
“ Aku
dilahirkan
disana
tuan.”
“MasyaAllah.”
Pembicaraan
inipun berlangsung, dan kemudian profesor mengakhiri dengan tidurnya,
dan Affandi
dengan kebaikan sikapnya memperhatikan pakaiannya, kemudian melihat
kami dan diapun tertawa. Namun dalam wajahnya, sang pelajar
menampakkan
suatu kebencian. Sebetulnya
berulang
kali dia
ingin bicara tapi rasa malu dan usianya yang masih kecil mencegahnya
untuk bicara
dan aku tidak akan
diam atas
apa yang dikatakan Syarkasi. Maka aku berkata padanya
:
“wahai
tuan,
kaum tani
seperti kita, haram bagi manusia untuk tidak memperlakukan sesama
manusia selayaknya. Maka aku menoleh pada sang Wali kota
seolah-olah aku sedang berhadapan dengannya
dan
dia berkata:
“Aku
adalah orang yang lebih tahu
soal
petani,
dan aku mendapat kehormatan untuk menjadi walikota di negeri diamana
didalamnya terdapat ribuan orang dan jika anda berkenan mengetahui
urusan-urusan petani, aku akan menjawabmu. Sesungguhnya para petani,
yang mulia Affandi, tidak akan sejahtera kecuali dengan
suatu pukulan.
Dan perkataan ini benar.”
Dia
menunjuk
Syarkasi,
“Dan
tidak
menyembunyikan sebuah berita
seperti
orang
yang memberitakan.
Maka Pelajar itu
bangun dengan geram, dan tidak berhenti diam, katanya sambil gemetar:
Petani,
wahai Wali
kota
yang agung. Sang walikota menyela perkataan lalu
dia
berkata: "katakan
dengan senang hati, karena aku telah disedihkan
oleh
pangkat
itu
selama
dua
puluh
tahun.
Pelajar
itu
berkata:
wahai walikota yang
mulia,
Petani ,tidak
tunduk pada perintahmu kecuali dengan
pukulan
karena
anda tidak membiasakannya
selain dengan itu,
jika Anda memperlakukannya
dengan baik, maka Anda benar benar akan menemukan seorang saudara
saling mendukung dan membantu
mu.
Tetapi sayangnya anda menyakitinya dengan sengaja
dan
menjadikan
kerusakan sebagai solusi dari kekerasan anda. Ini sungguh
mengejutkan, Anda seorang petani, dan menyalahkan saudara-saudara
petani Anda. Sang Walikota menggelengkan kepalanya, melihat Syarkasi
dan berkata : Inilah hasil pendidikan. Syarkasi berkata: Dia
tidur lalu
bangkit, dan mendapati dirinya berdiri di sana. Sedangkan
Affandi
dengankebaikan
sikapnya,
dia tertawa
terbahak bahak sambil bertepuk
tangan
dan
berkata
kepada
pelajar . Bravo
wahai Affandi ,Bravo,Bravo... .sarkasi
melihat Affandi dia membengkak dan sulit bernafas.
Dia berkata: Siapa
kamu? Putra
keberuntungan
dan
kemanusiaan,wahai
manusia. Dia
tertawa terbahak bahak dan berkali-kali.
tidak
ada seorang pun yang berpihak kepada sarkasi lalu dia berteriak dan
berkali-kali
meludah
di
lantai,
professor,
dan
sepatu
sang walikota. Kelakuan petani dari Sis. Lalu si Syarkasi diam dan
orang-orang yang hadir pun diam, dan keributan itu mulai mereda
karena sang Walikota menoleh ke arah Proffesor dan berkata: engkau
adalah sebaik baik hakim wahai tuan kami . maka tetapkanlah hukum
pada kami dari permasalah ini, professor menggelengkan kepalanya
dan dia berdeham lalu meludah dilantai dan berkata: Kasus
apa yang harus aku beri hukum, dengan izin Allah? Apa yang
lebih berfaedah bagi petani? Pendidikan atau Pukulan? Profesor
itu berkata: Dengan nama Tuhan Yang Maha Pemurah Maha Penyayang
"Sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan kepadamu,
kemenangan yang nyata. "Nabi SAW berkata : ” Jangan kau ajari
ilmu anak anak para rakyat rendahan? Sang Professor kembali menutup
kelopak matanya, si Pelajar itu tertawa dan berkata: Engkau
haram berkata seperti itu wahai Proffesor. Sungguh perbandingan
antara orang kaya dan orang faqir adalah yang agung budi pekertinya,
sehingga diantara mereka ada yang di tingkatan paling bawah.
Proffesor terbangun dari kelalaiannya dan berkata : Sesungguhnya
semenjak kalian belajar berbicara bahasa asing, rusaklah budi pekerti
kalian, urusan-urusan agama kalian terlupakan, dan kalian menjadi
begitu sombong dan tidak memepercayai keberadaan Sang
Pencipta. Syarkasai
dan
sang Walikota berseru : "Anda
Tuhan, profesor" Sirkasia
mengatakan: Seorang
anak
takut makan bersama ayahnya, dan hari ini dia mencium
dan
ingin
menamparnya. Sang
Walikota berkata: Anak
lelaki itu tidak dapat melihat wajah pamannya dan sekarang
dia duduk bersama
istri
saudaranya. Dan
kereta berhenti
di
Qalyub,
aku
mengucapkan
salam lalu meninggalkan
mereka dan berjalan
menuju sebuah desa, aku hampir tidak
bisa
mendengar
suara kereta kereta
berjalan di
antara padang rumput hijau karena
banyak
nya
teriakan keras
di
telinga ku.
Komentar
Posting Komentar