PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang selalu diberikan kepada kita semua, hanya kepada-Nya kita meminta dan bersujud. Shalawat serta salam selalu kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan makalah ini, kami menyadari dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Baik struktur pembahasannya maupun sistematika penulisannya. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dari bapak Dr. Zamzam Afandi, M. Ag selaku dosen mata kuliah Filsafat Ilmu, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada membaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Yogyakarta, 11 April 2018










DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN 3
  1. Latar Belakang Masalah 3
  2. Rumusan Masalah 3
  3. Tujuan Penulisan 3
BAB II PEMBAHASAN 4
  1. Pengetahuan 4
  2. Keyakinan 7
  3. Hubungan Antara Pengetahuan dan Keyakinan 8
BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan 10
DAFTAR PUSTAKA 11












BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Filsafat merupakan jenis pengetahuan yg menyelidiki segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan kajian yg rinci untuk menemukan esensi ( hakikat ) dari objek yang dikaji. Filsafat identik dengan ilmu pengetahuan karena merupakan semua hasil dari pemikiran teoritis para pemikir , yang artinya para ahli menciptakan ide dan pendapat sebagai rujukan dan pedoman bagi orang lain. Sedang dalam memahami filsafat pasti akan selalu dikaitan dengan keyakinan rasional maupun irasional.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa itu pengetahuan?
  2. Apa itu keyakinan?
  3. Apa perbedaan dan hubungan antara pengetahuan dan keyakinan?

  1. Tujuan Penulisan Makalah
  1. Agar mahasiswa mampu memahami apa itu pengetahuan
  2. Agar mahasiswa mampu mengerti apa itu keyakinan
  3. Agar mahasiswa mengetahui perbedaan pengetahuan dan keyakinan








BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengetahuan
Pengetahuan ialah semua yang diketahui. Menurut al-Quran tatkala manusia dalam perut ibunya, ia tidak tahu apa-apa . tatkala ia baru lahirpun barangkali ia juga belum tahu apa-apa. Kalaupun bayi yang baru lahir itu menangis, barngkali karena kaget saja, mungkin matanya merasa silau atau badannya merasa dingin. Dalam rahir tida silau dan tidak dingin, lantas ia menangis.
Tatkala bayi itu menjadi orang dewasa, katakanlah ketika ia berumur 40 tahunan, pengetahuannya sudah banyak sekali. Begitu banyaknya sampai-sampai ia tidak tahu lagi berapa banyak pengetahuannya dan tidak tahu lagi apa saja yang diketahuinya, bahan kadang-kadang ia tidak tahu apa sebenarnya pengetahuan itu.
Semakin bertambah umur manusia itu semakin banyak pengetahuannya. Dilihat dari segi motif, pengetahuan itu diperoleh melalui dua cara. Pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingintahuan dan tanpa usaha. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingn tahu. Pengetahuan diperoleh karena diusakan, biasanya karena belajar. Manusia ingin tahu, lantas ia mencari. Hasilnya ia tahu sesuatu. Nah sesuatu itu adalah pengetahuan.1
Drs. Sidi Gazalba, mengemukakan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil daripada kenal, sadar, insaf mengerti dan pandai. Pengetahuan itu semua milik atau isi pikiran. Orang pragmatis, terutama John Dewey tidak membedakan antara pengetahuan dengan kebenaran (antara knowledge dengan truth). Jadi pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar adalah kontradiksi.2
  1. Jenis Pengetahuan Manusia
Beranjak dari pada pengetahuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah pengetahuan, maka didalam kehidupannya manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenaran. Menurut hemat kami ada beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia, yaitu:
  1. Pengetahuan biasa (common sense)
Pengetahuan biasa atau dalam filsafat dikatakan dengan istilah “common sense”, dan sering diartikan dengan “good sense”, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah ya karena memang itu merah, benda itu panas arena memang dirasakannya panas, dan sebagainya.
Dengan common sense, semua orang sampai kepada keyakinan secara umum tentang sesuatu, dimana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari-hari, seperti air dapat dipakai untuk menyiram bunga, makanan dapat memuaskan rasa lapar, musim kemarau akan mengeringkan awah tadah hujan, dan sebagainya.
  1. Formal Science
Ilmu pengetahuan formal tidak tergantung kepada pengalaman , dan tidak berhubungan dengan gejala-gejala alam. Empirical science (ilmu pengetahuan empiris) berhubungan dengan aspek-aspek pengalaman, dan berusaha untuk merumusan hukum-hukum tentang aspek-aspek tersebut.
Karakteristik daripada formal science, adalah deduktif hipotesis. Ahli formal science, menganggap semua pernyataan hipotesis benar, dan dalam kaitannya dengan hukum-hukum serta definisi-definisi yang menentukan, apakah pernyataan-pernyataan akan benar.
Pengertian formal menunjukkan, bahwa para ahli di bidang formal science, menitik beratkan pada kerangka atau bentuk-bentuk pernyataan atau pemikiran, bukan pada materi apa yang dibicarakan. Formal science tidak menauh perhatian pada pengalaman empiris, juga tidak pada intuisi, melanan pada hubungan-hubungan logis matematis yang murni.
  1. Empirical Science (Ilmu-ilmu empiris)
Seperti yang dikemkakan diatas, bahwa empirical science berhubungan dengan aspek-aspek pengalaman. Namun bukan sekedar pengalaman biasa, seperti yang dilakukan dengan common sense. Dalam hal ini kita dapat membedakan antara ilmu empiris dengan common sense, adalah sebagai berikut:
  1. Comon sense merupakan pengetahuan yang diperoleh malalui pengalaman secara tidak disadari dan tidak disengaja, sedangan ilmu empiris diperoleh melalui pengalaman secara metodologis (melalui proses dan cara-cara tertentu).
  2. Common sense bersifat random dan kebetulan, sedngkan ilmu empiris berorientasi pada tujuan dan bersifat selektif.
  3. Common sense bersifat kabur, obyek dan situasinya tidak dapat dibeda-bedakan, misalnya air menurut common sense merupakan sesuatu yang membasahi, buan sesuatu kimiawi, seperti yang diselidiki oleh ilmu. Ilmu berhubungan dengan hal-hal atau sifat-sifat yang abstak, seperti misalnya: energi, bias cahaya, reproduktif, refleksi, dan lain sebagainya. Sifat-sifat abstrak ini diperlukan dalam rangka meneruskan hipotesis, membuat sesuatu generalisasi atau hukum-hukum.

  1. Pengetahuan Biasa dan Pengetahuan Ilmiah (Ilmu Pengetahuan)
Apabila kita membandingkan antara pengetahuan biasa (knowledge/ common sense) dengan pengetahuan ilmiah/ ilmu pengetahuan (science) dapat dikatakan sebagai berikut:
Persamaannya adalah bahwa kedua-duanya mencari kebenaran, timbul dari keinginan manusia untuk mengejar kebenaran untuk mengerti dirinya sendiri .
Tetapi perbedaannya ialah:
Pengetahuan biasa (common sense/ knowladge) tidak memandang betul-betul sebab-sebabnya, tida mencari rumusan yang se obyektif-obyektifnya, tidak menyelidiki obyeknya sampai habis-habisan, tak ada sintesis, tak bermetode dan tak bersistem.
Pengetahuan ilmiah/ ilmupengetahuan (science) adalah sebaliknya yaitu mementingkan sebab-sebabnya, mencari rumusan yang sebaik-baiknya, menyelidiki obyeknya selengkap-lengkapnya sampai habis-habisan, hendak memberikan sintesis yaitu satu pandangan yang bergandengan, bermetode dan bersistem.
Kesimpulan yang dapt ditarik sekarang ialah bahwa bagi manusia mempunyai kemungkinan untuk mencapai pengetahuan yang lebih sempurna daripada pengetahuan biasa, yang lebih tinggi derajatnya yang hendak memberikan “insight”(pemahaman yang mendalam). Ilmu pengetahuan memang berdasaran pada pengetahuan yang biasa tetapi disempurnakan, diperluas, dipertanggungjawabkan supaya pasti dan benar. Hingga manusia dengan demikian mendeati apa yang dicita-citakannya, yaitu kebenaran dan kehidupan yang didasaran atas kebenaran itu, yaitu kehidupan yang sungguh-sungguh bertaraf manusiawi.3



  1. Keyakinan
Keyakinan secara etimologi adalah ilmu, hilangnya keraguan, dan mencapai sesuatu. Dan secara terminologi adalah anggapan terhadap sesuatu bahwa sesuatu itu demikian disertai anggapan bahwasannya sesuatu itu tidak mungkin tidak demikian, selaras dengan kenyataan yang tidak berpeluang adanya perhentian.4
Dalam istilah psikologi yang diutarakan dalam kitab usus al yaqiin bayn al fikr al diiny wa al falsafy dijelaskan bahwa keyakinan itu adalah “ketenangan dalam jiwa terhadap ketetapan sesuatu secara pasti yang tidak ada keraguan didalamnya, menerima keraguan, walau kadang menuruti sesuatu yang menurut kenyataan adalah salah.5
Dalam kamus filsafat karya murad wahbah dijelaskan bahwa pengertian keyakinan dalam ilmu mantiq adalah “setiap pengetahuan yang tidak menerima keraguan yang di dalamnya terdapat rasa percaya terhadap sesuatu prioritas atau Kesimpulan yang muncul secara tidak langsung setelah adanya bukti. Dan dari pengetahuan tersebut terdapat hal yang menghantarkan pada sesuatu yang tidak bisa dihantarkan kepada yang lain, atau substansi yang menunjukkan pengetahuan tersebut kepada sebuah pemikiran seperti kepercayaan yang bersifat keilmuan.6
Klasifikasi objek keyakinan
Objek keyakinan diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu :
  1. Klasifikasi pertama
Adalah sesuatu yang menjadi prioritas akal yang sederhana yang sudah mengakar pada akal manusia tanpa substansi tambahan untuk membuktikan kebenarannya. Seperti “ Dua itu lebih besar dari satu”
  1. Klasifikasi kedua
Adalah sesuatu yang nyata dalam bentuk material. Seperti : “Bulan itu bulat” dan “Matahari itu bersinar”
  1. Klasifikasi ketiga
Adalah sesuatu yang sudah diuji cobakan yang kebenarannya itu adalah hasil dari uji coba yang dilakukan dengan cara mencari sebab dan memunculkan akibat. Seperti “Pukulan itu menyakitkan bagi hewan”, “Memotong leher itu mematikan”, dan “Pencahar itu adalah obat pencuci perut”.
  1. Klasifikasi keempat
Adalah sesuatu yang diketahui justru bukan dari sesuatu tersebut melainkan melalui medianya, akan tetapi, sesuatu tersebut tidak tertutupi oleh medianya. Seperti “Dua itu sepertiga dari enam” atau “jantung adalah salah satu organ tubuh manusia”
  1. Perbedaan Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan dan keyakinan sama-sama merupakan sikap mental seseorang dalam hubungan dengan obyek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau tejadi. Walaupun ada hubungan yang sangat erat, tapi pengetahuan tidak sama dengan keyakinan.
Dalam keyakinan, obyek yang disadari sebagai ada tersebut, tidak perlu harus ada sebagaimana adanya. Sedangkan dalam pengetahuan, obyek yag disadari itu memang ada sebagaimana adanya. Oleh karena itu, pengetahuan tidak sama dengan keyakinan, karena keyakinan bisa saja keliru tetapi sah saja dianut sebagai keyakinan. Apa yang disadari sebagai ada, bisa saja tidak ada dalam kenyataannya. Sebaliknya, pengetahuan tidak bisa salah atau keliru karena begitu suatu pengetahuan terbukti salah atau keliru, maka tidak bisa lagi dianggap sebagai pengetahuan. Apa yang dianggap sebagai pengetahuan lantas berubah status menjadi sekedar keyakinan belaka.
Salah satu persayaratan untuk mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu adalah bahwa apa yang dinyatakannya sebagai yang diketahui dalam kenyataannya memang demikian adanya. Jadi obyek yang diketahui tersebut harus ada, harus terjadi sebagaimana yang dinyatakan. Dengan kata lain, pengetahuan selalu mengandung kebenaran. Apa yang diketahui harus benar, yaitu harus ditunjang oleh bukti-bukti berupa acuan pada fakta, saksi, memori, catatan historis, dan sebagainya.
Apa yang dianggap sebagai pengetahuan lalu dirumuskan sebagai proposisi. Pengetahuan yang diungkapkan dalam proposisi itu hanya sah dianggap sebagai pengetahuan jika proposisi itu memang dalam kenyataannya benar sebagaimana yang diungkapkan. Pengetahuan bukan sekedar sikap mental karena setiap pernyataan atau proposisi yang merupakan pengetahuan harus selalu mengandung kebenaran dan karena itu selalu punya acuan pada realitas.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, timbul dua pendapat yang berbeda:7
  1. Pendapat pertama mengatakan bahwa supaya ada pengetahuan, subyek yang bersangkutan harus sadar bahwa ia tahu. Jika ia tahu tentang sesuatu, ia harus tahu bahwa ia tahu tentang hal itu. Misalnya, para filsuf fenomenologi mengatakan bahwa tahu adalah tahu bahwa seseorang mengetahui sesuatu.
  2. Pendapat kedua mengatakan bahwa supaya ada pengetahuan, tidak perlu ada kesadaran bahwa subyek itu tahu. Dalam banyak kasus kita tahu sesuatu, walaupun tanpa menyadari bahwa kita tahu. Barulah setelah orang lain menyinggung hal itu, kita menjadi sadar bahwa sesungguhnya kita tahu.
Pendapat kedua sesungguhnya tidak bertentangan dengan pendapat pertama. Pendapat kedua pada dasarnya meneguhkan pendapat pertama bahwa pengetahuan baru benar-benar merupakan pengetahuan ketika subyek tersebut sadar kembali akan apa yang mungkin pernah diketahuinya. Kendati kita tahu banyak hal, tetapi ketika kita tidak sadar akan apa yang kita ketahui itu, hal tersebut belumlah merupakan pengetahuan. Kalaupun apa yang diketahui tanpa disadari itu dianggap sebagai pengetahuan, ini hanya merupakan pengetahuan terselubung dan belum merupakan pengetahuan yang aktual.
Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa supaya ada pengetahuan, di satu pihak apa yang dinyatakan sebagai diketahui itu harus ada sebagaimana dinyatakan, tetapi di pihak lain di subyek sendiri harus sadar bahwa ia tahu tentang apa yang dinyatakannya sebagai diketahui itu. Sampai dengan tingkat tertentu pengetahuan selalu mengandung keyakinan, yaitu keyakinan mengenai kebenaran pengetahuan itu.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan8
        1. Magic Power ( kekuatan magis) atau fenomena kekuatan ghaib. Orang yang lebih percaya pada sesuatu yang aneh karena tidak tahu sebabnya sebagai kekuatan magis.
        2. Naturalisme berarti sesuatu yang alami.


BAB III
PENUTUP
  1. KESIMPULAN
Semu yang diketahui ialah pengetahuan, sedangkan keyakinan ialah anggapan terhadap sesuatu bahwa sesuatu itu demikian disertai anggapan bahwasannya sesuatu itu tidak mungkin tidak demikian. Keduanya saling berhubungan dan saling membutuhan, dimana sebuah fakta tak akan menjadi pengetahuan bila tidak diyakini kebenarannya, dan keyakinan akan terasa kosong bila tak didasarkan atas pengetahuan. Walau begitu keduanya berbeda satu sama lain, dimana keyakinan bisa saja keliru, sedang pengetahuan tak bisa keliru.
















DAFTAR PUSTAKA
Salam, Burhanuddin. 2012. Pengantar Filsafat. Jakarta: PT Bumi Aksara
Latif, Mukhtar. 2014. Orientasi ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta: Kencana
Tafsir, Ahmad.2012. Filsafat Ilmu, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Manzhur, Ibnu. Lisanul Arab jilid 13.
Wahbah, Murad. Mu’jam al-Fasafy. Mesir: Dar Ma’mun
Muhammad,Yusuf Mahmud. Usus al-Yaqin Bayn al-Fikr- al-Diin wa al-Fasafi. Qatar: Dar el-Hikmah
Kamaluddin, Undang Ahmad Kamaluddin. Filsafat Manusia. Bandung: CV Pustaka Setia






1 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012) hlm. 4-5
2 Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat,(Jakarta: PT Bumi Aksara) hlm. 5
3 Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat,(Jakarta: PT Bumi Aksara) hlm. 5-8
4 Ibnu Manzhur, Lisanul Arab jilid 13, hal . 457
5 Murad Wahbah, Mu’jam al-Fasafy,( Mesir: Dar Ma’mun) hlm. 216
6 Dr. Yusuf Mahmud Muhammad, Usus al-Yaqin Bayn al-Fikr- al-Diin wa al-Fasafi, (Qatar: Dar el-Hikmah) hlm. 15-17
7 Dr. H. Undang Ahmad Kamaluddin, M.Ag, Filsafat Manusia,(Bandung: CV Pustaka Setia), hlm.10
8 Ibid. Hlm 11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

siapakah saya ?

TERJEMAHAN CERPEN KARYA MAHMUD TAIMUR